Evaldo Masih Kebal Pinangan
HANYA ada foto besar dua ekspatriat yang menempel di dinding ruang sekretariat baru Persijap di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara. Dua pemain itu adalah Evaldo Silva yang saat ini kembali menjadi kapten tim, dan Phaitoon Thiabma. Phaitoon sekarang masih beristirahat di negaranya, Thailand, karena cedera pada musim 2007.
Dua pemain asing itu memiliki catatan tersendiri, setidaknya bagi tim dan fans ”Laskar Kalinyamat”. Phaitoon mengakhiri kariernya pertengahan 2007 karena cedera, setelah tiga musim berturut-turut membela kesebelasan Kota Ukir. Sedangkan Evaldo sudah lima musim ini ada di Jepara. Beredar kabar, pertengahan musim ini dia mendapatkan tawaran dari klub lain.
Pria asal Brasil itu tak menampik kabar tersebut. ”Tetapi, saya tidak mau, karena masih menjadi bagian dari tim ini sampai kontrak habis pada Juli 2009,” katanya.
Dia mengakui, sebenarnya tawaran dari klub lain itu datang setiap musim. Evaldo datang ke Jepara sejak musim 2004, setelah memperkuat sejumlah klub di negaranya, seperti Volta Rodonda, Americano, juga tim yunior Fluminense. Ia tak beranjak, sejak Persijap tampil di Divisi I, lalu tiga tahun di Divisi Utama, dan kini di Djarum Indonesia Super League (ISL). Bola Mati Meski sebagai pemain belakang, dia produktif karena andal dalam mengeksekusi bola-bola mati. Stoper itu telah mengemas 27 gol, baik di ajang kompetisi liga maupun Copa Indonesia.
Tiga gol di liga dicetak pada tahun pertama di Jepara. Tahun berikutnya empat gol. Sumbangan terbanyaknya pada musim 2006, yakni sembilan gol di liga dan satu gol di copa.
Lalu pada 2007 ia mencetak empat gol, dan kini sampai paro musim 2008 telah lahir enam gol lewat kaki maupun kepalanya. Mengapa dia enggan pindah klub di saat banyak pinangan, bahkan oleh klub lebih besar dari Persijap? Bukankah dalam era industri sepak bola uang kontrak dan gaji yang berlimpah hampir selalu menjadi daya tarik pindah klub? Apalagi Jepara adalah daerah pinggiran sekaligus ”miskin” hiburan.
”Saya ke Persijap untuk bekerja sebagai pesepak bola. Kalau saya butuh hiburan, masih bisa cari di kota lain dan itu tidak sering saya lakukan. Saya lebih suka bermain internet di rumah kos,” katanya.
Meski keberatan menyebut nilai kontrak dan gajinya, Evaldo merasa apa yang didapat sudah memenuhi harapannya. Uang disebutnya bukan segalanya dalam mepertimbangkan pindah atau tidak.
”Tahun ini kontrak saya lebih rendah dari sebelumnya. Saya tahu karena ini akibat kondisi keuangan tim. Tapi saya mendapatkan kepastian dan hubungan yang baik dengan semua orang di Jepara,” ujarnya.(sumber:SM)
|
|
| Users' Comments |
|
Average user rating
(0 vote)
|
|
|