02 Februari 2010

Banaspati - Panser Biru Damai Tanpa Dendam??

SEMARANG - Panser Biru dan PSIS terpukul dengan aksi anarkis yang dilakukan oknum suporter Mahesa Jenar terhadap suporter Persijap Jepara pada Jumat (29/1) di Jalan Siliwangi, Krapyak.

Mereka menyayangkan penyerangan tersebut hingga mengakibatkan citra dan nama baik tim kebanggaan warga Semarang tercoreng. Karena itu, usaha-usaha untuk memulihkan nama baik PSIS dan membangun kembali hubungan baik dengan suporter Persijap pun akan dilakukan secepatnya.

Ketua Umum Panser Biru, M Rofiq Cholil menyatakan dalam kasus ini nama Panser Biru sebagai organisasi suporter PSIS sangat tercoreng. Mengingat beberapa pelaku kerusuhan tersebut merupakan anggota Panser Biru. Bahkan, otak serangannya adalah Edy Purnomo alias Kirun yang notabene merupakan dirigen master.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Banaspati H Ali Anggoro. Dia menyesalkan penyerangan secara brutal itu. Namun secara umum, Banaspati tidak merasa dendam dengan serangan yang telah dilakukan oleh para oknum suporter tersebut.

Menurut Rofiq Cholil, penyerang suporter Persijap bertindak atas inisiatif pribadi. Panser Biru sebagai organisasi tidak pernah menginstruksikan kepada anggotanya untuk melakukan tindak anarkis, bahkan menyerang suporter tim lain.

’’Kejadian ini jadi instropeksi diri pengurus Panser Biru. Selama ini kami terus mendengungkan bahwa Panser Biru cinta damai dan semakin dewasa. Tapi, kenyataan di lapangan, sosialisasi itu kurang mengena ke anggota,’’ terang Rofiq.

Melihat kenyataan tersebut, dalam waktu dekat Pengurus Besar Panser Biru akan mengumpulkan seluruh koordinator wilayah (korwil) yang ada di Semarang dan sekitarnya serta Jakarta. Pertemuan tersebut untuk menyolidkan korwil dan meminta mereka mengawasi anggotanya agar tidak melakukan tindakan anarkis.

Selain itu, juga akan diagendakan usaha rekonsiliasi dengan suporter Persijap. Dalam waktu dekat, Rofiq akan mengutus salah seorang pengurus untuk menemui pimpinan suporter Persijap. Pertemuan diharapkan bisa membangun kembali hubungan baik antarorganisasi suporter.

’’Kami ingin suporter PSIS dan Persijap bersatu dan bersaudara. Pertemuan dengan suporter Persijap akan segera kami lakukan. Diharapkan dalam pertemuan tersebut bisa melahirkan solusi untuk berdamai. Dan, itu harus disosialisasikan ke anggotanya masing-masing,’’ katanya.

Ali Anggoro menambahkan, penyerangan itu tidak manusiawi lagi. Sebab dalam bus rombongan terdapat anak-anak dan wanita yang juga mendapatkan perlakuan kasar.

“Sangat menyesalkan sekali. Beberapa waktu lalu, ada konsolidasi terkait dengan POS (Paguyuban Organisasi Suporter-Red) Jateng yang membahas bagaimana suporter itu bisa guyub dan rukun terutama untuk wilayah Jawa Tengah. Melihat kejadian ini, kami berpikir, untuk apa konsolidasi seperti itu toh tetap ada tindakan brutal seperti penyerangan tetap terjadi,” tegasnya, Minggu (31/1) dinihari di pelataran Pendapa Kabupaten Jepara.

Dia melanjutkan, sepenuhnya proses hukum itu diserahkan kepada polisi. Penyerangan itu merupakan kriminalitas karena adanya penganiayaan, perampokan, serta pelecehan kepada wanita.

“Polisi yang berhak untuk menentukan hukuman, karena itu sudah ranah hukum. Kami berharap, Kapolda Jateng bersikap tegas atas kasus ini. Siapa pun itu aktor dan pelakunya, selayaknya dihukum berat ditambah lagi, sudah direncanakan dengan matang. Yang cukup menghenyakkan kami, dalangnya adalah Kirun,” tandasnya.

Beberapa waktu lalu dalam setiap kesempatan, Kirun saat datang ke Jepara mendapatkan sambutan hangat dari Banaspati, bahkan dijamu dengan sangat sopan oleh dia dan kawan-kawannya.

Sesepuh Banaspati Zaenur Rohman menyatakan, pihaknya terbuka untuk menjalin komunikasi dengan kelompok suporter PSIS, termasuk dengan Snex yang secara antar-pengurus cukup dekat. Keterlibatan Banaspati di POS adalah upaya untuk menjalin hubungan baik.

’’Karena itu kami sangat terkejut dengan aksi pelemparan Jumat lalu, dan itu harus menjadi yang paling terakhir,’’ kata dia. Hanya saja, problem organisasi suporter yang masih harus dipecahkan adalah terkadang suara elite atau pengurus sebuah kelompok, tidak senada dengan di tingkat ’’akar rumput’’. Itu sebabnya sering muncul pembelaan, ’’Pelaku kerusuhan itu oknum, bukan anggota, atau kelompok tidak terlibat didalamnya’’.

POS, kata Zaenur, sebagai wadah organisasi suporter di Jateng harus segera menyelesaikan masalah-masalah tersebut agar sesama pendukug tim sepak bola tetap rekat dalam persaudaraan, bukan permusuhan.

Terpukul
General Manager PSIS Johar Lin Eng mengaku aksi anarkis tersebut sangat memukul mental manajemen Mahesa Jenar. Pasalnya, saat ini pihaknya tengah berusaha membangun persepakbolaan yang bersahabat, tidak anarkis, dan taat hukum. Salah satu usaha yang dilakukannya adalah dengan menggelar pertandingan uji coba dengan Persijap beberapa waktu lalu.

’’Uji coba tersebut merupakan salah satu usaha untuk mempererat hubungan dan persaudaraan dengan Persijap. Tapi, dengan adanya penyerangan suporter lalu, jelas kami harus kembali memperbaiki hubungan tersebut,’’ ujar Johar.

’’Penyerangan tersebut tidak ada hubungannya dengan manajemen. Apapun alasannya, aksi anarkis tersebut tidak bisa ditoleransi,’’ tambahnya.

Sekalipun demikian, pihak manajemen tetap menyampaikan keprihatinan yang mendalam terhadap suporter Persijap yang terluka dan akan memberikan bantuan. ’’Ketua Umum menugaskan kami untuk mendata korban dari suporter Persijap guna diberi bantuan,’’ tutur Johar.

’’Hubungan dengan pengurus Persijap tetap kami jalin untuk mempererat dan mempertahankan persahabatan,’’ imbuhnya.

Hingga kemarin, polisi masih memburu pelaku penyerangan yang belum tertangkap atau menyerahkan diri. Polisi sudah menangkap 21 orang, di antaranya ada yang menyerahkan diri. Otak penyerangan yakni Edy Purnomo alias Kirun, warga Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngalian, Semarang, juga masih diperiksa secara intensif.

Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengejaran terhadap sejumlah pelaku penyerangan yang belum ditangkap.

“Bagi pelaku yang merasa ikut serta melakukan penyerangan terhadap rombongan suporter Persijap Jepara yang saat ini bersembunyi, agar segera menyerahkan diri kepada polisi. Kemana pun, anggota kami akan terus memburu. Kami juga tidak segan untuk mengambil tindakan tegas,” ujar Kapolda didampingi Kapolwiltabes Semarang Kombes Pol Edward Syah Pernong, kemarin.

Penyidik masih mengembangkan penyelidikan terhadap tersangka yang telah ditangkap. Ratusan barang bukti diamankan di antaranya batu, besi, dan kayu. Bahkan ada bongkahan batu besar. Dari hasil penyelidikan sementara, para tersangka akan dijerat dengan pasal berlapis.

Diantaranya Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan yang dilakukan secara bersama-sama dan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan atau perampokan. “Kami akan rumuskan terlebih dahulu berdasarkan fakta-fakta hasil penyidikan,” ungkap Kapolda.

Dijelaskannya, sebagai langkah antisipasi tidak terulang lagi kejadian seperti kemarin, Kapolda mengimbau kepada seluruh pengurus klub-klub sepak bola yang ada di Jawa Tengah, agar selalu berkoordinasi dengan Kapolres setempat. Terlebih jika ada pergerakan suporter yang memberikan dukungan terhadap kesebelasannya saat bermain di kandang lawan.

“Dengan demikian, kami bisa melakukan pengawalan. Kapolres yang bersangkutan akan berkoordinasi dengan kapolres-kapolres yang wilayahnya dilewati rombongan suporter, sehingga dapat dilakukan pengawalan sampai ke tempat tujuan,” tandas Kapolda. Hal tersebut dimaksudkan agar seluruh masyarakat pecinta sepak bola dalam mendukung kesebelasan kesayangannya berlaku tertib dan tidak anarkis.

Pemkot Semarang diminta untuk ikut bertanggung jawab atas kerugian yang dialami suporter Persijap akibat diserangan suporter PSIS. Pertanggungjawaban tersebut dengan cara mengganti semua kerugian materiil termasuk mengganti semua biaya pengobatan bagi para korban. Karena bagaimana pun, tindakan ini dilakukan oleh oknum warga Kota Semarang dan suporter yang selama ini mendukung PSIS.

’’Pemkot harus bertanggung jawab. Mengingat yang melakukan aksi anarkis tersebut merupakan warga kota Semarang dan pendukung PSIS,’’ tegas Wakil Ketua Bidang Legal PSIS, Kholison.

Terkait persoalan hukum, anggota Komisi B DPRD Kota Semarang ini menyerahkan sepenuhnya ke aparat kepolisian. Kholison juga meminta Pemkot tidak memberikan perlindungan pada para pelaku. Sebab menurutnya, pelaku dalam penyerangan tersebut merupakan oknum yang kebetulan berada dalam kepengurusan Panser Biru.(H13,H54,H21,H40,J4,H15-62)

1 comments:

ali mengatakan...

pemain persijap sudah d gnti bolak balik , tp pelatihnya jg hrus d gnti yg bgus .
saya lihat pemainnya sdh bgus" tp cm pelatihnya yg bl0m baeg , klo pelatihnya sdh di gnti sperti bang junaidi ! sya ykin persijap psti bangkit lgi dan menangan gk kyak gni !
tolong pelatihnya di gnti yaaaa... !

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Facebook Themes